AksiMuseum : The Museum + Heritage Apps Project

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything

#22 : Rerouting

Oleh : Faikar Izzani

Berkelanjutan dengan posting sebelumnya, penulis memutuskan untuk berdiskusi dengan Pak Alfonzo terkait pengembangan tesis penulis…Diskusi penulis lakukan di rumah beliau yang nyaman di daerah Taman Pramuka pada Sabtu kemarin.

Kami mendiskusikan tentang pengembangan tesis penulis, yang jika mengangkat tentang museum rupanya oleh Pak Intan dan Pak Alfonzo dianggap sudah terlalu ‘mentok’ karena memang keadaan lapangan yang tidak memungkinkan. Penulis juga membicarakan hasil studi literatur yang dilakukan terkait Bandung dan sejarahnya, yang rupanya memunculkan hasil yang tidak disangka-sangka (jaman perang kemerdekaan, Bandung rupanya relatif ‘tenang’ dibandingkan kota lain, dan pembahasan heritage Bandung sudah sering dilakukan).

Meskipun begitu, Pak Alfonzo melemparkan trigger yang cukup menarik : mengapa tidak membahas Semarang? 

Semarang merupakan kota pesisir yang dibangun oleh Belanda, serta memiliki warisan budaya dan sejarah yang kaya karena adanya 3 macam etnis utama yaitu Jawa, Cina, dan Arab. Selain itu, jika penulis tetap keukeuh membahas sejarah militer, Pertempuran 5 Hari di Semarang tentunya menjadi pilihan yang menarik untuk diangkat.

Diskusi kami akhiri setelah 1 jam karena Pak Alfonzo sudah ada agenda lain. InsyaAllah akan dilanjutkan besok Senin. Bagaimana hasilnya? Stay tuned!

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#21 : Buku Membuka Wawasan

Oleh : Faikar Izzani

Setelah beberapa hari ini hiatus dari dunia per-blog-an, penulis akhirnya kembali lagi dengan sebuah perkembangan…satu buku tentang sejarah Bandung selesai dibaca!

Mungkin masih ingat tentang beberapa buku tentang sejarah Bandung yang penulis post beberapa waktu yang lalu…alhamdulillah satu buku : Wajah Bandoeng Tempo Doeloe sudah berhasil penulis ‘khatam’kan.

Dari situ, penulis dapat melihat betapa panjangnya sejarah Bandung ini, dan bagaimana peran serta penduduk di dalamnya ikut mendorong munculnya Bandung yang menjadi Paris Van Java. Selain itu penulis menjadi sadar bahwa ‘kacau’nya Bandung (sehingga muncul sebutan Bandung Brengsek) rupanya sudah ada sejak awal 1980-an, tepatnya tahun 1984 waktu buku tersebut ditulis! (yang berarti sudah hampir 30 tahun…bagaimana ini Pemkot Bandung??) 

Di lain pihak, materi buku tersebut menimbulkan warning bagi penulis…yaitu meskipun pertempuran pada masa perang kemerdekaan di Jawa Barat cukup intens, namun panasnya api peperangan itu tidak begitu mempengaruhi Bandung!! (kecuali tentunya masa Bandung Lautan Api…namun berdasarkan data yang penulis dapat kejadiannya tidak seheboh Pertempuran 5 Hari di Semarang atau Peristiwa 10 November Surabaya…mungkin harus riset lagi ya)

Keadaan ini membuat penulis menstrategikan ulang konsep konten pada proyek tesis :

1. Tetap pada konten pertempuran, namun kotanya diganti…bisa mengambil sampel Semarang dengan Pertempuran 5 Hari, Jogja dengan Serangan Umum Jogjakarta, Surakarta dengan Serangan Umum Surakarta, atau Surabaya dengan Peristiwa 10 November

2. Mengubah kontennya supaya sesuai dengan Bandung : Heritage, khususnya pada peninggalan budaya dan gedung bersejarah.

Penulis sadar pada titik ini penulis belum bisa bergerak lebih jauh sebelum konten di-fix-kan…insyaAllah diskusi dengan Pak Intan dan Pak Alfonzo akan cukup membantu :) amin!

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#20 : Ide, Sketsa, dan lain lain…

Oleh : Faikar Izzani

Hari ini, penulis menyempatkan diri untuk mampir ke BDV (Bandung Digital Valley) di Geger Kalong untuk diskusi dengan rekan-rekan dari COOLLAB terkait data-data terbaru yang penulis dapatkan hingga saat ini.

Tak dinyana, setelah susah payah perjalanan dengan angkutan umum (dan sempat kehujanan pula), rupanya sedang ada sesi sharing di BDV, yang berarti penulis belum dapat berdiskusi dengan rekan-rekan di sana…

Daripada diam saja dan membuang waktu, akhirnya penulis memanfaatkan keadaan tersebut dengan melanjutkan bacaan dari buku desain digital media, serta menumpahkan ide-ide tentang media mobile yang akan dibuat nanti :)

 

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#19 : Test Drive!

Oleh : Faikar Izzani

Dalam pengembangan mobile application ini, tentunya dibutuhkan referensi maupun pembanding sehingga hasil akhirnya nanti dapat dinilai kualitasnya bila disandingkan dengan karya lain yang sejenis.

Pada proyek ini, penulis disarankan oleh rekan-rekan dari COOLLAB untuk memanfaatkan konsep SOLOMO (yang sudah dijelaskan di posting sebelumnya). Media digital yang sesuai dengan konsep tersebut salah satunya adalah Location Based-App

Aplikasi mobile ini memanfaatkan teknologi GPS untuk memetakan posisi pengguna di dunia nyata, dan setelah itu umumnya diberikan sebuah user experience yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dengan pengguna lain, entah untuk sekedar mengetahui siapa saja yang berada di area yang dekat dengannya, menanyakan satu tempat spesifik, atau pada kasus aplikasi berupa permainan digital, bermain bersama.

Salah satu aplikasi yang penulis coba berupa permainan digital bernama Parallel Kingdom. Pada permainan ini, pemain seakan-akan berada di dunia paralel dimana dia dapat melawan monster, membangun kastil, menjelajahi dunia, bahkan bertransaksi dengan pemain lain. Tampaknya umum ya? Permainan ini menjadi menarik karena pemain dapat menjelajahi dunia permainan dengan berjalan-jalan di dunia nyata! Karena menggunakan sistem GPS, pengendalian lokasi tokoh pemain berhubungan erat dengan posisi pemain di dunia nyata. Bahkan dalam tutorial permainan, untuk memperluas teritorial, pemain disarankan untuk berjalan bersama anjing peliharaannya! (maksudnya disini pemain disarankan untuk tidak diam di tempat, melainkan keluar rumah dan menjelajahi daerah tempat tinggalnya).

Kelemahan dari permainan ini yang penulis rasakan adalah dibutuhkannya koneksi internet yang cepat dan stabil, GPS-nya masih belum terlalu akurat (saat penulis memainkannya di area ITB, penulis justru tampak berada di sekitar Cihampelas), dan karena genre ini belum terlalu populer di Indonesia, penulis belum menjumpai pemain lokal yang lain. 

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#18 : Tak Kenal Maka Tak Sayang

Oleh : Faikar Izzani Setelah beberapa hari ke belakang disibukkan oleh penulisan draft Bab I proyek tesis penulis, alhamdulillah akhirnya penulis dapat menyempatkan waktu untuk mencari bahan bacaan yang dapat mendukung pengembangan proyek ini. Yang pertama, penulis mampir ke perpustakaan FSRD dan mendapatkan 2 buku tentang sejarah Bandung. Sebenarnya pada awalnya penulis lebih memilih untuk mengulas pertempuran dan peristiwa ikonik pada masa perjuangan yang terjadi di Kota Kembang ini, namun tampaknya literatur yang membahas hal tersebut cukup terbatas sehingga penulis harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada :D bagaimanapun juga, tak kenal maka tak sayang! Yang kedua, adalah sebuah buku yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan media digital elektronik. Buku kedua ini cukup menarik karena membahas pendekatan visual pada pengembangan media tersebut, disertai contoh-contoh dari desainer maupun biro desain ternama serta tips-tips yang dapat digunakan dalam pelaksanaanya!

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#17 : Coretan Ide

Oleh : Faikar Izzani

Beberapa hari ini, penulis menulis ulang konsep dan latar belakang pengembangan proyek tesis yang dilakukan. Hal ini dilakukan supaya penulis dapat memahami lebih dalam apa yang sebenarnya isu yang diangkat, target yang sebaiknya disasar, dan juga media yang sesuai untuk mempertemukan kedua hal tersebut, dan juga sebagai materi diskusi penulis dengan rekan-rekan yang insyaAllah akan membantu dalam pengerjaan proyek ini :)

Hasilnya? Sebuah mobile app berkonsep SOLOMO yang harus seru dan menantang untuk digunakan (sesuai dengan insight dari target kita, pemuda usia SMA-kuliah) dengan konten materi intangible heritage dari masa perjuangan di Bandung. Dalam membentuk UX yang seru dan menantang tersebut, penulis masih belum dapat memutuskan apakah menggunakan app dengan gamification (diberi mekanik game padahal bukan game) atau langsung saja dibangun sebagai sebuah game. Hal ini terjadi karena berdasarkan pembicaraan penulis dengan rekan-rekan di COOLLAB, kedua hal tersebut meskipun cukup ‘dekat’, namun memiliki proses pembuatan yang cukup signifikan perbedaannya.

InsyaAllah penulis diberi kemudahan dalam memutuskan pilihan, yang akan membawa manfaat bukan hanya bagi penulis (karena untuk tesis) tapi juga untuk masyarakat, sehingga mereka dapat menyelami kisah-kisah menginspirasi dari masa perjuangan yang lalu. Amin!

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#16 : Dari Konsep ke UX…

Oleh : Faikar Izzani

Tanggal 6 Juli kemarin penulis berkunjung ke BDV, ke kantor COOLLAB untuk berdiskusi dengan rekan praktisi pengembang mobile app penulis, Chrisna Aditya, Muhammad Imran, dan Amril Hidayat.

Disana, kami berdiskusi tentang konsep yang akan penulis bawa, yaitu menyampaikan sisi intangible dari sejarah Indonesia kepada generasi muda melalui media mobile gadget. Diskusi yang berjalan dari siang hingga malam hari ini memunculkan satu konsep UX yang insyaAllah akan menarik calon pengguna untuk mencoba media ini.

UX hasil diskusi kami adalah sebuah permainan shooter berbasis konten perjuangan di Museum Mandala Wangsit. Secara teknis, terdapat hal-hal yang masih ‘berkabut’ semisal pengkodingan permainan yang direncanakan menggunakan teknologi AR dan 3D ini, dan alhamdulillah rekan-rekan penulis bersedia membantu mencari tahu tentang teknologi tersebut.

Bagaimana detilnya? Kontak penulis untuk mengetahuinya ;)

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#15 : SOLOMO

Oleh Faikar Izzani

Apa itu SOLOMO? Kata ini bukanlah nama salah seorang nabi (Sulaiman) namun singkatan dari SOcial, LOcal, dan MObile. Konsep ini penulis dapatkan setelah berdiskusi dengan praktisi mobile app developer Chrisna Aditya, Muhammad Imran, dan Amril Hidayat dari COOLLAB. 

Konsep ini, berdasarkan pendapat Chrisna, adalah konsep yang akan meledak dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini didasarkan pada kesesuain konsep SOLOMO dengan insight para pengguna media digital masa kini.

Apa saja yang menjadi dasar dari SOLOMO?

SOcial : konsep ini menekankan ketersambungan sebuah media digital dengan jejaring sosial, selain itu juga mendukung komunikasi antar penggunanya. Komunikasi ini dapat dimanfaatkan untuk hal-hal simpel dan umum seperti menanyakan arah atau tempat menarik di sekitar itu, hingga dimanfaatkan sebagai dasar permainan multiplayer real-time

LOcal : LOcal menunjukkan pemanfaatan Location Based Technology seperti GPS. Elemen ini menambahkan perasaan ‘nyata’ bagi penggunanya karena dia dapat mengetahui posisi dia di suatu tempat dibandingkan dengan orang lain dan tempat-tempat menarik secara real-time dan bird-eye view. Penggunaan teknologi ini memudahkan pengguna untuk mengetahui lokasi dan tempat yang seru untuk dijelajahi

MObile : dari katanya sudah tampak bahwa MObile menunjukkan konsep ini memiliki pemanfaatan teknologi mobile seperti smartphone dan tablet yang cukup tinggi. MObile menjadi bagian dari konsep karena teknologi ini adalah teknologi yang mampu mendukung kedua konsep sebelumnya melalui kemampuan mobile gadget untuk tersambung dengan internet, namun masih cukup ringan dan ringkas untuk dibawa penggunanya.

  • 11 months ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#14 : Location-Based Games

Oleh : Faikar Izzani

Apa itu Location Based Game? Pada dasarnya permainan digital ini adalah permainan yang memanfaatkan GPS dan dunia nyata sebagai elemen permainannya. Beberapa jenis gameplay yang penulis temui (semisal pada TidyCity di bawah ini, penulis menampilkan laman pengaturan misi dari permainan tersebut)laman pengaturan TidyCityadalah pemain berkelana mengelilingi sebuah kota dengan rute yang sudah disiapkan sebelumnya maupun secara bebas, mengumpulkan benda-benda di jalan, menyelesaikan tantangan yang diberikan, dan mendapatkan hadiah berupa medali, badge, maupun benda lainnya. Menurut pengamatan penulis, genre ini belum begitu populer di Indonesia (meskipun ada satu aplikasi populer yang memanfaatkan mekanik genre ini yaitu Foursquare). Hal ini menurut penulis disebabkan oleh masih belum dikenalnya sistem ini, iklim Indonesia yang tropis cenderung sangat panas saat cerah atau sangat basah saat hujan, dan jaringan internet yang masih belum tersebar luas.

  • 11 months ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

#13 : Berani Mati Hidup, Takut Mati Mati

Oleh : Faikar Izzani

Hari ini 3 Juli 2012, penulis berkunjung ke salah satu keluarga penulis yaitu Mbah Yahya. Beliau adalah seorang veteran Perang Kemerdekaan, dan bertugas di satuan Mayor Achmadi sebagai kurir dan akhirnya sebagai prajurit kombatan. Beliau mengalami sendiri peristiwa Serangan Umum Surakarta (dapat dibaca di http://angkasareaders.proboards.com/index.cgi?board=forpengmilkisperang&action=display&thread=52) dan dari peristiwa tersebut, beliau kehilangan jari kelingking kirinya karena anak buah Westerling!

Wawancara berlangsung sekitar 1 jam, dan beliau menceritakan tentang jalannya peristiwa itu dan cerita menarik di baliknya semisal penggunaan peluru Howitzer 25 Kg sebagai pengganti ranjau darat, yang ledakannya mampu melemparkan panser ke udara, pengepungan markas Belanda di Surakarta sehingga mereka dalam keadaan nyaris tewas karena kelaparan, dan cerita-cerita lain seputar perjuangan di masa itu.

Hal menarik lain yang penulis temukan adalah pada masa itu, para pemuda terjun ke medan perang bukan karena paksaan, namun karena perasaan emosi kebangsaan yang membuncah akibat pidato-pidato oleh Bung Karno. Mbah Yahya juga menceritakan cerita-cerita yang mengharukan tentang keluarga-keluarga yang kehilangan anak-anaknya akibat gugur sebagai pahlawan (alhamdulillah di keluarga kami 3 orang yang berangkat semuanya kembali ke rumah dengan selamat, salah satunya Mbah Yahya tersebut)

Beliau juga menyampaikan kalimat penyemangat satuannya, yaitu : Berani Mati Hidup, Takut Mati Mati. Kalimat yang sangat kuat ini mendorong anggota satuan tersebut untuk bertempur dengan gagah berani melawan Belanda, dan setelah perdamaian dicapai, menjadi motto hidup bagi mantan anggotanya, termasuk Mbah Yahya.

Wawancara ini menunjukkan bahwa masih banyak sekali sisi yang tidak kita ketahui dari warisan sejarah Indonesia…siapa lagi yang bertanggung jawab menyimpan dan menyampaikannya pada dunia,

kalau bukan kita? 

  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 1 of 3
← Newer • Older →

About

Collections of Faikar Izzani's progress in developing museum app for Indonesia's museums and heritages
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union